Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2017

I love you, now and then

Cukup tahu tanam dalam diri.. Tak usah ku dekati mu lagi.. Ku tak mau lagi tak mau lagi bersama mu kasih.. cukup tahu tanam dalam diri.. Tak usah ku ganggu kamu lagi.. Ku tak mau lagi tak mau lagi, sayang -         Rizki Febrian, Cukup Tahu- Ini ketujuh kalinya aku memutar lagu ini keras-keras dari MP3 ku. Berharap dapat menyembunyikan isak tangis ku malam ini. Aku sedikit menyesali keputusan ku untuk pulang ke  kampung halaman ku saat ini. Bukan karena aku waktu yang aku habiskan bersama keluargaku, tidak.. melainkan karena dia. Dia yang sudah memporak-porandakan pertahananku selama ini. Dua tahun lamanya aku memendam perasaan pada dia, yang namanya selalu aku sebut dalam sebuah doa. Menemani dan  menjaganya sebagaimana aku menjaga perasaanku sendiri, namun apa daya tuhan berkehendak lain. Sang maha pembolak-balikkan hati ini, telah memutuskan jika aku hanyalah sekedar teman baiknya, Ardian.. Aku memutuskan untuk men...

hmm

Bagaimana jika kita mencintai seseorang yang pada dasarnya tidak pernah mencintai kita apa adanya? Pada dasarnya cinta adalah sesuatu yang hidup, yang kita pilih dan kita pupuk sendiri. Kita lah yang memutuskan untuk jatuh cinta dan mulai mencintai seseorang. Sadarkah kita? Jika pada awalnya itu adalah sebuah ketertarikan semu, dan kita memilih untuk mengikuti insting kita, mencari tahu mengenai dia, memulai pendekatan, dan berbagai hal yang kemungkinan membuat kita melupakan siapa diri kita sebenarnya padahal bisa saja kita mengacuhkan perasaan itu dan tetap melangkah.. Lalu tahap kedua, memulai pendekatan yang lebih intens, memulai merubah pola pandang kita dan memulai menyamakan persepsi dengan dia. beragam pujian dan sanjungan mulai keluar dan berakhir dengan sebuah keputusan. Eksekusi atau mati. Jika kita salah mengartikan sikap baik mereka sebagai persamaan rasa, maka kita akan berakhir dengan patah hati. Namun, jika perasaan bersambut maka kita akan bahagia tak terkira...