I love you, now and then


Cukup tahu tanam dalam diri..
Tak usah ku dekati mu lagi..
Ku tak mau lagi tak mau lagi
bersama mu kasih..
cukup tahu tanam dalam diri..
Tak usah ku ganggu kamu lagi..
Ku tak mau lagi tak mau lagi, sayang
-        Rizki Febrian, Cukup Tahu-

Ini ketujuh kalinya aku memutar lagu ini keras-keras dari MP3 ku. Berharap dapat menyembunyikan isak tangis ku malam ini. Aku sedikit menyesali keputusan ku untuk pulang ke  kampung halaman ku saat ini. Bukan karena aku waktu yang aku habiskan bersama keluargaku, tidak.. melainkan karena dia. Dia yang sudah memporak-porandakan pertahananku selama ini.
Dua tahun lamanya aku memendam perasaan pada dia, yang namanya selalu aku sebut dalam sebuah doa. Menemani dan  menjaganya sebagaimana aku menjaga perasaanku sendiri, namun apa daya tuhan berkehendak lain. Sang maha pembolak-balikkan hati ini, telah memutuskan jika aku hanyalah sekedar teman baiknya, Ardian..
Aku memutuskan untuk mengikuti instingku, dan memilih untuk mengambil pendidikan di kota lain, untuk mengurangi frekuensi pertemuan kami. Dan dalam hal ini, karena aku lah yang telah menembak dan tertolak, memutuskan untuk menjauhinya sejauh yang aku bisa. Hanya untuk menjaga agar perasaan ini tidak terluka.
Satu tahu lamanya, aku berada di kota Semarang, berusaha beradaptasi dan pelan-pelan mulai melupakan segala tentang dia. bahkan, mendengar namanya disebut saja tidak membuat hatiku bergetar sedikitpun sehingga aku memutuskan untuk menghadapinya walau itu sedikit.
Terngiang oleh ku saat pertemuan sore itu..
“Hai, kamu tidak berubah sedikitpun, bagaimana kabarmu? Dan ini, ku bawakan makanan kesukaanmu, bagaimana jika kita makan bersama?”
“Emh,” kataku bingung menghadapi suasana yang tidak ku pikirkan sebelumnya
“Keburu dingin ini tahu tek nya, ayo makan di teras. Seperti itu” jawabnya sambil menarik tanganku.
Aku melihat dia dalam diam. Memang aku dan dia tidak berubah sedikitpun. Matanya yang sekelam telaga ternyata masih mampu menghanyutkanku. Suaranya yang lembut namun tegas, seolah menari-nari dalam pikiranku. Dan semua itu masih membuktikan jika sampai saat ini pun, aku masih menyayanginya,…
“Dek, ayo di makan, selak dingin nanti, apa mau tak suapin, seperti dulu?”
Aku terhenyak. Seperti dulu? Bagaimana sebenarnya seperti dulu itu? Seperti aku yang begitu senang dan bahagia dengan segala perhatian dan tindakannya? Atau bagaimana..?
“Seperti dulu, ya seperti dulu…” jawabnya seolah mengerti apa yang aku pikirkan.
“Seperti saat dulu, saat kita mulai mengenal, saling mengerti, dan saling bersama. Seperti waktu itu. Sebenarnya selama ini aku selalu berusaha untuk menghubungimu dan mencari tahu segala tentangmu. Bukan karena aku ada perasaan, tidak. Tapi lebih seperti aku tak ingin menyakitimu. Aku menyesal mengenai kejadian waktu itu, namun, aku ingin ita kembali seperti dahulu. Seperti tidak ada apa-apa…” tambahnya.
“Sepertinya, aku sudah kenyang, Mas Ardiansyat bisa duduk disini, akan ku panggilkan Mas Dito. Mungkin alasan mas kemari untuk bertemu dengan Mas Dito, bukan aku”
Dan dalam diam aku berlari dan mengunci diri di kamar. Pengecut memang, Egois memang. Dan dia sudah mengatakan berulang kali jika aku tak pernah ada di dalam hatinya. Namun, sebagai seorang wanita biasa, apakah aku salah jika mengharapkan timbal balik dari orang yang aku sayang? Selama ini, aku tidak benar-benar telah melupakannya dan meninggalkannya, malah sebenarnya aku masih sayang padanya, dan aku mulai terlelap dengan sebuah kertas lusuh dalam dekapanku..

Surabaya, 18 Maret 2010
Selamat pagi  untuk seseorang yang selama ini dekat denganku. Awalnya, aku tak tahu harus memulai ini darimana, dan aku tak tahu harus berbicara seperti apa. Kau dan aku adalah teman baik. Aku mengenalmu sudah cukup lama, begitu pula denganmu. Mungkin ini adalah sebuah takdir.
Sejujurnya, saat kau mengatakan jika kau memiliki perasaan yan berbeda, sebuah perasaan terhadapku. Itu membuat ku bingung. Aku tak tahu harus berbuat apa. Jika aku boleh jujur, aku juga memiliki perasaan terhadapmu. Tapi perasaan seorang kakak yang ingin menjaga adiknya. Bukan karena aku ingin menyakitimu, tapi aku tak bisa menerimanya. Aku dan Dito pun sudah berteman cukup lama, kau seperti adik kecil yang telah lama hilang dari kehidupanku. Aku harap, hubungan kita masuh bisa seperti biasa. Seperti dahulu. Aku tak ingin kamu terluka dan menjaga jarak karena ini.

Maaf jika aku mengecewakanmu..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017's Resolution

Ikan dan Manusia

Cinta adalah Kamu