Ikan dan Manusia
#KampusFiksi 7 Days Writing Challenge
#BasabasiStore
#Day5
Sebuah Paragraf untuk dunia..
Aku mengambil sebuah buku bersampul seorang
gadis yang duduk di bawah pohon sambil menerawang masa depan. Sekilas tidak
satupun hal yang istimewa dari buku ini selain beberapa halaman khusus yang
akan menjadi materi UTS kali ini. “Etika Sosial” begitulah judul dari buku ini,
sebuah buku pembelajaran yang berisi berbagai kasus dan hidup-penghidupan.
Sebuah paragraph untuk dunia. Aku membuka
sebuah halaman yang sudah aku hafal betul tata letaknya karena memang aku
sangat menyukai kata-kata itu. “Tidak ada ikan yang berdaging asin di laut,
bahkan kebanyakan dari mereka terasa manis. Meskipun hidup di laut, ikan saja
dapat menjaga diri mereka dari lingkungannya, masak manusia yang diberikan akal
dan logika tidak?”
Pertama kali membaca, kalimat itu terasa
seperti menampar dan menohokku. Jika ikan yang tidak dibekali dengan akal
logika dapat menjaga diri dari lingkungannya yang buruk, menjaga dan mengambil
sisi positif dalam kehidupan sehingga dia dapat berupa sebuah ikan dengan nilai
gizi yang tinggi dan terasa manis, kenapa manusia yang dibekali dengan logika
dan pemikiran yang baik malah mudah terpengaruh dengan keadaan lingkungan
mereka?
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial
yang memiliki pemikiran terbuka dan sangat jelas. Mereka mengerti apa itu baik
dan buruk dalam setiap kehidupan dan tindakan. Saat manusia itu berada di suatu
lingkungan dan beradaptasi, banyak dari mereka yang tidak dapat menjaga
konsistensi mereka sebagai manusia pada umumnya. Mereka malah mengikuti arus
kehidupan berdasarkan lingkungan dan lebih mengutamakan hukum rimba, dimana
yang menang dan kuat akan berkuasa. sehingga menimbulkan banyak konflik negative
yang pada dasarnya bisa dihindari atau dikecilkan bukannya malah di
besar-besarkan.
Beberapa norma sosial di gunakan sebagai
tameng dan sebuah aturan baku untuk menindaklanjuti beberapa kesalahan, dimana
sebuah hukum pemerintahan bahkan tidak di hargai dan tidak bermakna. Bagaikan kembali ke zaman dimana belum mengerti apa itu arti
kehidupan yang sebenarnya mereka saling menjatuhkan satu pihak dengan pihal
lain dengan menggunakan berbagai cara. Hal ini pun terjadi karena campur tangan
dari lingkungan mana mereka berada.
Jika ikan dapat menjaga diri mereka, mengapa
manusia selalu merusak diri mereka sendiri? Dengan berbagai penyakit hati,
dengki, dan angkara.. dengan berbagai zat buruk, seperti rokok dan miras. Jika ikan
saja bisa menjaga diri, apakah kita sebagai manusia tidak?
-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 7 Days Writing Challenge-
Haiii, ikan laut aja manis, masa manusia enggak? Ah bagus ini kata2nya, malu lah manusia kalau nggak bisa manis sama lingkungannya😊
BalasHapusiya juga ya, seLama ini tidak pernah berfikir seperti itu. fiLosofi ikan keren juga
BalasHapusterimakasih :)
Hapus