Boneka hidup atau seorang manusia?

#KampusFiksi 7 Days Writing Challenge
#BasabasiStore
#Day3

Anak adalah sebuah titipan dari Tuhan kepada hambanya melalui berbagai proses kehidupan yang cukup menyulitkan akhirnya seorang manusia mungil lahir dan menatap dunia untuk pertama kali dari rahim sang ibu..
Perjuangan seorang manusia mungil itu pun tidak berhenti sampai disitu, bersama dengan kedua orangtuanya dia berusaha untuk hidup dan berkembang dengan semaksimal mungkin. Tidak ada sebuah keluarga yang tidak menginginkan seorang anak di dalam kehidupan berkeluarga mereka. Tatkala seorang ana itu lahir, banyak dari mereka yang telah mengemban nama dan harapan di pundak mereka. Seorang anak tak berhak meminta dimana dan di keluarga seperti apa dia ingin dilahir dan di besarkan.
Orangtua memberikan pengharapan yang besar kepada seorang anak, harapan bagaimana dia akan tumbuh dan berkembang, bagaimana dengan prestasi akademik dan sosialnya, bagaimana cara dia dapat membanggakan orang tua. Seorang anak memikul beban yang tak banyak kita sadari sebagai seseorang yang dewasa. Dan terkadang harapan dan beban itu kita anggap lumrah karena kita di besarkan dengan cara yang sama. Namun, ada beberapa yang terkadang kita lupa, jika anak adalah seorang manusia yang memiliki hati dan pikiran.
Anak adalah seorang manusia, sama seperti kita pada umumnya. mereka memiliki dunia dan harapannya sendiri. Mereka terkadang memilih sendiri apa yang mereka inginkan. Banyak hari hal tersebut yang melenceng jauh dari harapan awal kita. Kata-kata kasar dan terkadang sedikit penghinaan kita lontarkan pada anak-anak dengan harapan mereka sadar dan mau berbalik arah ke jalan yang kita inginkan.
Namun, jika kita memahami dengan lebih baik. Jika seorang anak tumbuh berkembang tidak seperti yang kita harapkan, kita tidak perlu terlalu jauh merasa kecewa dan memaksa mereka untuk  memilih jalan yang kita pilihkan untuk mereka. Kita harusnya menyadari dan memahami jika mereka pun memiliki dunia dan hasrat mereka sendiri. Memang terkadang akan ada saat dimana terjadi saling silang pendapat, namun bukankah itu lebih baik daripada menggerakkan sebuah boneka hidup? Kita harus bisa memposisikan dan melngkah bersama dengan anak kita ke depannya, apalagi mereka adalah titipan Tuhan yang tidak dapat diperoleh dengan mudah. Jika mereka salah arah, sudah kewajiban kita untuk membimbing dan menunjukkan arah yang terbaik, namun dengan cara yang semestinya, tidak dengan tarikan paksa..
Mungkin aku akan kecewa jika nantinya anakku tidak seperti yang aku bayangkan, namun jadi seperti apapun kamu nanti, aku akan tetap menyayangi kamu, karena orang tua adalah tempat anak untuk pulang.


-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 7 Days Writing Challenge-



Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017's Resolution

Ikan dan Manusia

Cinta adalah Kamu