CiMon Cinta Monyet
#KampusFiksi 7
Days Writing Challenge
#BasabasiStore
#Day1
Cinta
monyet…
Dua kata itu selalu menimbulkan sensasi sendiri terhadap para
pendengarnya, ada yang tertawa dan ada yang bersemu merah karena malu. Betapa tidak,
sekarang setelah dewasa bukankah itu terasa begitu kekanakan dan begitu lama? Seperti
sebuah masa dimana itu terasa jauh dan tak tersentuh sedikitpun. Begitupun denganku,
saat mendengar dua kata itu memori-memori berhamburan dan saling tumpang tindih
meminta untuk memperlihatkan kespesialan mereka di masa itu.
Cinta
monyetku.. terjadi saat aku kelas 1 SMP..
Sebuah masa transisi dimana para remaja seumurku sudah tidak mau di
panggil sebagai anak-anak, namun kami tidak cukup pantas untuk di panggil
dengan sebutan remaja, apalagi dewasa muda, sangat tidak cocok.
Saat itu aku dan keluargaku tinggal di rumah nenek, karena memang
rumah kami sedang di renovasi. Disana aku bertemu dengan dia, seorang pemuda
masjid yang seumuran denganku. Begitu manis dan suaranya begitu merdu saat
mengaji dan mengumandangkan adzan. Langsung saja aku terpaku, siapa pemilik
suara semerdu itu?
Minggu kedua, saat disana terdapat kesenian jaranan, aku bertemu
dengan dia. penampilan kamu begitu kontras, dia dengan baju koko, celana
panjang dan kopyah menunduk malu saat bertemu denganku, seorang gadis dengan
rambut ikan kuda dan celana doreng khas angkatan darat. Kami saling mengucapkan nama dan bertukar
nomor hp tanpa adanya sentuhan kulit sama sekali.
Hari-hari setelah itu dia menjadi
motivasiku untuk pergi ke masjid dan menggunakan pakaian yang lebih pantas. Aku
datang saat awal suara adzan di kumandangkan demi melihat dia, dan pulang dari
masjid paling lama hanya untuk bertemu dengan dia meskipun dalam hitungan
menit. Teman-teman yang usil selalu mendempetkan sandal kami. Kisah-kisah kecil
dimulai di masjid itu, kami memiliki kotak penyimpanan dimana kami selalu
bertukar hal-hal kecil, sebuah rahasia singkat.. seperti bunga mawar, makanan,
dan sebuah kalung couple karena di masa itu memang lagi “trend” nya kalung
couple.
2 bulanan kami mulai berpacaran,
kesana kemari, berlari pagi, mengukir nama cinta dimanapun kami berada dan kami
kunjungi, mulai dari rumah pohon, kursi, sofa dan segala hal norak yang
dilakukan namun tetap saja bahkan untuk berpegang tanganpun kami tidak berani.
Dan setelah
satu tahun, kami berpisah dengan alasan sepele. “Kamu mulai gendut”
-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 7 Days Writing Challenge-
Komentar
Posting Komentar