Kekasih...
#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
#Day1
#Tipe Kekasih Yang Di Dambakan
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling coffee
shop, mencari-cari sesosok laki-laki yang menggenakan pakaian paling santai
untuk masuk ke dalam sebuah tempat seperti ini. Aku melangkahkan kaki ke sebuah
tempat duduk paling dalam tepat di sebelah kaca.
“Maaf, aku telat. Tadi jalanan macet total” ucapku
langsung sambil menghempaskan pantatku di kursi depan dia.
“Tak apa, bukan kamu namanya kalau tidak terlambat”
jawabnya sambil menghendikkan bahu.
“…Dan kenapa kamu berpakaian rapi dan formal seperti itu?
Mau kencan buta lagi?” tambahnya
Aku hanya mengibaskan rambut, terlalu malas
untuk menjawab pertanyaannya yang aku tahu akan selalu berakhir dengan sebuah
perdebatan dimana jika
jodoh-akan-selalu-datang-tepat-waktu-tanpa-harus-kita-cari vs
kebahagiaan-tidak-akan-datang-jika-kita-tidak-berusaha.
“Bagaimana lelaki yang terakhir yang membuat mu telat 1
jam untuk berada disini? Seorang koki lagi? Apa seorang abdi Negara?’
Aku hanya menghembuskan nafas keras, karena aku tahu dia
tidak akan berhenti sampai mendapatkan apa yang dia inginkan.
“Seorang koki, 25tahun, tinggi, tetapi hanya bertemu 10 menit
karena dia harus pulang. Mengingat dia belum masak untuk kucingnya dan
memberikan perawatan pada seekor kucing lain yang ekornya tergigit teman
sepermainan yang hampir putus.” Jawabku putus asa
Hahahhaaha
Aku hanya bisa tersenyum pasrah saat melihat dia
tertawa dengan lepas, silahkan tertawa sepuasnya dan aku cukup menyesal karena
telah datang dan dandan pagi-pagi ke tempat janjian dengan koki yang lebih
mementingkan kucing daripada seorang gadis yang berada di depannya. Aku menyesap
Macchiato Caramel yang sudah dingin sambil memakan Cake marble cinnamon chocolate yang sudah dia pesankan untukku
sebelumnya.
“Jadi, kalau aku boleh tahu kekasih
idaman kamu itu seperti apa? Barangkali aku bisa ikut membantu kamu dalam
projek mencari pasangan sebelum sumpah apoteker itu terlaksana? Bagaimana dengan
pria arah jam 12?”
“Terlalu tua”
“Lalu bagaimana dengan laki-laki di arah jam 3?”
“Terlalu muda”
“Bagaimana dengan laki-laki di arah jam 5?”
“Dia sudah ada yang punya, tak bisakah kamu melihat
kilauan cincin yang tersemat di jarinya? Apa perlu aku belikan kacamata baru
untuk kamu? Barangkali kaca mata kuda cocok” kataku mulai sewot.
“Baiklah-baiklah, aku hanya ingin sedikit menggoda kamu,
lalu bagaimana tipe idaman mu yang sebenarnya?”
“Pertanyaan yang cukup bodoh untuk seseorang yang
mengenalku lebih dari 3 tahun. Daftar yang paling adalah agama, karena
laki-laki adalah seorang pemimpin bagi rumah tangga di masa depan, aku ingin
memiliki dan mendambakan seorang laki-laki yang cukup baik dalam agama, aku
ingin dibantu dan dibimbing bersama dengan dia. seseorang yang memiliki
pemahaman agama yang baik seharusnya bisa memperlalukan manusia lain dengan
baik juga dong, ah dan juga aku ingin dia mencintai keluargaku seperti aku akan
mencintai keluarga dia.”
“Masuk akal, lalu”
“Attitude. Baik kamu adalah seorang yang
berpendidikan atau bukan, berasal dari keluarga yang seperti apa, tetapi attitude
kamu lah yang akan dinilai di masyarakat, kita adalah makhluk social dan
tidak bisa benar-benar hidup tanpa bantuan dari orang lain bukan? Jika attitude
kamu buruk siapa yang akan bekerja sama dengan kamu? Siapa yang akan
menerima kamu? Dan bagaimana kamu memperlakukan aku dan keluargamu nantinya? Apa
dengan kekerasan?”
“Jawaban yang diplomatis”
“Lalu yah, perasaan. Perasaan aman, nyaman, hangat, dan
terbuka. Aku ingin dia nantinya dapat menerima diriku apa adanya, tanpa adanya
tuntutan untuk merubah bagian-bagian dari diriku ke depannya. Karena jujur
saja, rasanya sangat malas jika pada saat pendekatan dia meminta mu untuk menguruskan
badan, ini itu, aku tidak ingin menukarkan kebebasan dengan penjara seperti
itu. Aku hanya akan berubah jika aku ingin. Dan tidak mungkin kan kita selalu
menjaga fisik kita sampai kita mati? Aku ingin dia nantinya adalah tempatku
untuk pulang, aku bisa bercerita tentang segalanya kepada dia, segala kerisauan
dan kebingungan meskipun hal yang paling kecil seperti menu makan malam. Bukankah
menyenangkan jika kita bisa saling terbuka? Dan yah aku akan lebih berbahagia
jika dia memiliki mata yang hitam sekelam telaga yang bisa menghanyutkanku di
dalamnya.”
“Lalu?”
“Fisik, dan Finansial. Bukan termasuk hal yang penting,
tetapi ya aku cukup mempertimbangkan hal ini, kamu tahu kan segalanya sekarang
mahalnya minta ampun?”
“Bagaimana
dengan hobi?”
“Hobi
tidak terlalu penting, setiap orang pasti memiliki apa yang mereka sukai dan
apa yang tidak mereka sukai. Tapi sebuah nilai plus untuk laki-laki yang tampil
nyaman apa adanya dan bisa memasak. Salah satu hobi ku adalah wisata kuliner,
sangat menyenangkan jika kita bisa berbagi resep bersama dan memasak bersama.”
“Hanya
itu?”
“Apanya?”
“Idamanmu?”
aku mengerjap beberapa kali dan mengangguk pasti. Ya hanya itu yang aku inginkan.
“Well,
bagaimana jika ada seseorang yang sesuai dengan ciri-ciri itu dan ternyata dia
menunggumu selama ini dan selalu memperhatikanmu?”
Perutku
terasa sakit saat melihat tatapan mata lelaki yang di depanku saat ini. kaki ku
terasa kebas dan keringat dingin mulai menjalari telapak tanganku. Aku tak
mampu berkata apapun saat menatap mata hitam yang tak pernah aku bayangkan jika
selama ini dia berada di dekatku. Mungkinkah…?
-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 10 Days Writing Challenge-
Komentar
Posting Komentar