Yes or No..

#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
#Day8
#Fakta dan Opini


Aku dan mereka, manusia-manusia lain di luar lingkaran kehidupanku. Setiap dari mereka memiliki pandangan yang berbeda tentang aku, siapakah aku, bagaimanakah aku, dan seperti apakah aku sebenarnya. Mereka saling tuduh menuduh dan berlomba-lomba untuk mengetahui siapa aku sebenarnya. Aku bukanlah seseorang dengan feromon dan kharisma yang luar biasa sehingga banyak yang tertarik padaku. Namun aku hanyalah seorang manusia biasa yang mencoba berbaur dengan segala jenis manusia yang ada di muka bumi ini.
Well, setiap orang berhak menilai bagaimana aku yang sebenarnya seperti aku menilai mereka, namun tak semua kebenaran yang mereka hadapkan pada ku adalah kebenaran yang sesungguhnya. Terkadang itu hanyalah topeng luar dari kehidupanku.
Beberapa opini terbesar orang-orang di sekitarku yang bertolak belakang dengan keadaanku yang sebenarnya.
1.     Aku adalah seseorang yang pendiam
Rata-rata orang yang mengatakan aku adalah seseorang yang pendiam adalah orang-orang yang baru mengenalku dalam hitungan hari, minggu, dan bulan. Atau orang-orang yang menemuiku untuk urusan yang formal dan khusus seperi konsultasi mengenai obat dan penyakit, urusan organisasi, dan sebagainya. Pada dasarnya aku adalah seseorang yang rame, cerewet, dan kritis. Hingga beberapa panggilan aneh bin nyeleneh melekat di diriku seperti Lombok, Mak lampir, Radio Rusak. Aku selalu berusaha untuk menempatkan diri dengan baik. Karena aku tahu tidak semua orang suka dengan ku jika aku berbicara banyak apalagi mengenai beberapa hal aku mengerti dan pahami namun mereka tidak. Jadi aku lebih leluasa bercerita banyak hal kepada mereka yang lebih memahami aku dan mau menerima aku apa adanya.
2.     Aku adalah seorang yang jenius dan tidak perlu belajar.
Seharusnya aku bersyukur dan berbahagia banyak orang yang mendoakan aku menjadi seorang yang jenius dan tidak perlu belajar. Pada kenyataannya aku hanyalah seorang manusia biasa yang memiliki IQ 121. Aku, angka segitu memang cukup tinggi namun itu bukanlah sebuah patokan mutlak mengenai kecerdasan seseorang. Aku juga memerlukan waktu untuk belajar bahkan aku sering tidur larut untuk belajar dan memahami materi. Aku belajar sedikit lebih keras daripada mereka. Aku menggadaikan waktu untuk bermain dengan membaca buku sehingga pengetahuanku sedikit lebih banyak daripada mereka. Sehingga aku mendapat panggilan sebagai ensiklopedia berjalan.
3.     Aku tidak berusaha apapun mengenai tinggi badan.
Memiliki tinggi badan yang cukup “mini” membuatku harus berusaha sangat keras untuk menaikan tinggi badan meskipun hanya beberapa cm apalagi salah satu orang tua ku memiliki tinggi badan yang cukup “mini” juga. Banyak orang yang memberikan ku petunjuk bagaimana caranya untuk meninggikan badan. Beragam cara sudah aku coba dan lagi-lagi aku tidak mendapatkan hasil yang aku inginkan. Aku renang, lompat tali, bermain basket, dan beragam kegiatan lain yang di percaya cukup dan mampu untuk memberikan hasil yang aku inginkan sudah aku lakukan namun yah, mungkin memang sudah takdirku memiliki tinggi badan yang cukup mini. Mereka hanya mencela dan memberikan beragam opini jika aku kurang ini, kurang itu, dan seakan tidak peduli atas apa saja yang sudah aku lakukan karena memang tidak membuahkan hasil.
4.     Aku berasal dari keluarga yang “berada”
Aku merupakan salah satu orang loyal dan tidak menghemat uang jika berhubungan dengan buku. Saking banyaknya koleksiku banyak yang mengira jika aku mendapatkan semua buku itu dengan mudah. Membeli, membeli, dan membeli. Padahal kenyataannya tidak. Aku menhemat dan menabung uang jajanku untuk membeli buku-buku yang aku suka dan demi memenuhi keinginanku untuk memiliki perpustaaan pribadi. Namun meskipun aku menjelaskan hal itu beberapa kali tetep saja mereka mengiraku adalah seorang yang berada.
5.     Aku adalah seseorang yang tegar
Oke yang ini sebenarnya agak sedikit .. yah… privasi tapi kali ini mungkin tidak ada  salahnya jika aku ingin berbagi bersama kalian. Sebenarnya aku adalah seseorang yang cengeng dan gampang menangis. Hanya saja aku memiliki beberapa tempat tertentu untuk aku menangis. Menangis di kala hujan dan di perjalanan meskipun berbahaya namun itu adalah lini pertama jika aku ingin menangis dan melepaaskan semua emosi negatife yang tersirat. Menangis di kamar tidur merupakan tempat kedua, dan aku memiliki beberapa orang terpercaya sebagai salah satu tempat pelarianku di saat sedih dan terluka. Itulah mengapa sangat sedikit orang yang mengetahui tangisanku. Aku bukanlah tipe orang yang mudah menangis dan mengumbar-umbar air mata, dan saat aku menangis maka aku akan mennjadi jelek jadi aku benci menangis meskipun aku termasuk ke dalam golongan orang yang cengeng.

-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 10 Days Writing Challenge-








Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017's Resolution

Ikan dan Manusia

Cinta adalah Kamu