Tentang aku dan mereka
#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
#Day6
#Cerita Tentang Aku
Setiap orang pasti pernah memiliki beberapa kelebihan dan
pencapaian yang cukup untuk membuat dirinya merasa bangga dan sedikit bernilai
lebih daripada orang lain. Begitu juga dengan diriku. Memiliki hobi daqn kegemaran
di dalam dunia cosplay membuatku mempelajari budaya jepang tidak hanya melalui
internet dan buku melainkan mencoba berkomunikasi dan menjalin hubungan baik
dengan penduduk local melalui sebuah situs yang membuat kami dapat berkirim
e-mail setiap malam. Belajar.. belajar.. dan belajar.. aku tidak merasa malas
dan bosan untuk mempelajari kebudayaan mereka karena menurutku mereka memiliki
nilai lebih untuk mencintai dan mempertahankan budaya mereka.
Pada suatu hari ada sebuah undangan untuk komunitasku
hadir di dalam sebuah festival budaya jepang di kota sebelah. Sebagai perwakilan
dari komunitas tentunya aku merasa bangga dan mencoba untuk melakukan hal
dengan sebaik-baiknya. Acara demi acara berlalu dengan lancar. Pakaian, make
up, penataan tingkah laku aku buat sedemikian rupa sehingga kurang lebih sama
dengan kebudaan aslinya. Tatacara berjalan dan duduk, tata cara meminum teh yang
sesuai adat, dan semua yang aku lakukan mendapat apresiasi dari pengunjung acara.
Tak banyak memang pengunjung yang menginginkan untuk berfoto bersama namun yah
aku merasa lebih baik karena semua terbayarkan saat melihat mereka tersenyum.Meskipun
aku tidak mendapat apresiasi selain ucapan terimakasih dari penyelenggara acara
namun aku merasa sedikit puas dan berterimakasih kepada Tuhan karena acara
berjalan dengan sukses.
Sesampainya di rumah aku bercerita mengenaik hariku
kepada ibu. Karena di dalam keluargaku terdapat aturan yang tidak tertulis
dimana kita harus bercerita saat kita menghadiri suatu acara yang di luar
kebiasaan. Alangkah kecewanya aku saat apa yang aku lakukan di pandang dengan
sebelah mata dan tidakmenyentuh sedikitpun rasa bangga dari kedua orang tuaku. Aku
yang mendapat undangan sebagai perwakilan, aku yang menghadirkan penampilan di
acara di anggap sebagai egiatan yang tidak penting dan mereka memintaku untuk
kembali dan belajar.
Pil pahit
kedua yang aku telan adala mengenai hobi ku sebagai seorang penari tradisional.
Aku suka menari, sangat suka malahan. Tak terhitung berapa tarian tradisional
yang sudah aku tarikan mulai aku Taman Kanak-kanak, mulai dari tari semut,
perahu layar, ngremo, dan lain-lain. Aku pun sering pergi ke beberapa kota
dengan sanggar Tariku untuk menghadiri lomba serta undangan untuk mengisi acara
disana. Sebagai seorang penari tradisional tentunya aku merasa bangga bisa
meneruskan dan melestarikan tari-tari yang mulai terkikis oleh budaya modern,
sekaligus aku merupakan salah satu dari penari terbaik di sanggarku saat itu. Kebanggaanku
berbanding terbalik dengan keinginan orang tuaku. Mau tidak mau aku harus
meninggalkan dunia tari saat aku SMA. Orang tuaku berfikir jika aku memiliki
banyak waktu luang untuk menari dan pergi ke luar kota hanya untuk mementaskan
tari, maka aku harusnya memiliki banyak waktu luang. Dan tidak ada yang lebih
baik memanfaatkan waktu luang selain untuk belajar. “mau jadi apa kamu kalau
menari terus menerus? Kamu tidak akan di hargai jika hanya menari. Tidak berguna
dan tidak akan menaikkan derajat kamu di masyarakat. Sebaiknya cepat tinggalkan
sanggar itu dan mulailah belajar dan fokus pada masa depan, masa depanmu
bukanlah sebuah panggung tari”
-tulisan ini
diikutsertakan dalam KampusFiksi 10 Days Writing Challenge-
Komentar
Posting Komentar