Rain

#KampusFiksi 10 Days Writing Challenge
#Day4
#Pertemuan Pertama Dengan Dia






Hujan, merupakan suatu kondisi alam dimana butiran air jatuh dari langit, tak terbatas, tak terhingga, membasahi bumi, menyejukkan suasana, dan mengembalikan kenangan yang terlupa tanpa tersisa. Masih jelas dalam ingatanku bagaimana kita bertemu di hari itu, di kota itu, bagaimana ekspresimu yang bersemu dan malu-malu. Suatu kenangan indah dan sedikit perasaan sakit merayap merasuki hatiku. Dan aku mulai mengingat kamu…

-------

 Ini malam terakhir aku berada di Kota Gudeg, Yogyakarta yang berarti kurang dari 3 jam aku akan meninggalkan kota ini bersama dengan rombonganku setelah seminggu kerja sosial di salah satu panti rehabilitasi.
Rintik hujan mulai membasahi bumi yang kering namun tidak mengurangi antusias dari masyarakat untuk melangkahkan kaki dan menikmati beberapa pagelaran budaya untuk memperingati sekaten. Tak seperti yang lain, aku lebih memilih untuk menjauhi keramaian, targetku malam ini adalah berbelanja sedikit memanjakan diri dengan berbelanja beberapa barang etnis yang dapat menarik perhatianku.
“Kak? Ayo kembali ke bis, udah mulai gerimis ini? Belanjanya masih belum selesai ya?” sahut Dhieka.
“Aku harus balik lagi, adekku minta dibeliin gelang, aku bisa nitip ini nggak ke kamu? Tolong taruh di kursi ku, bisa rusak kalau kena hujan nanti”
“Iya, Kak aku duluan” Aku memandang kepergian juniorku yang mulai menghilang tertelan keramaian orang yang berlalu lalang.
Kenapa harus hujan sih? Kenapa harus hujan di saat seperti ini. aku tidak menyukai hujan. Dia memaksaku mengingat hal-hal yang tidak ingin aku ingat.
Aku melangkahkan kaki kembali ke Jalan Malioboro, dan mencari beberapa penjual gelang.
“Permisi, bu. Ada gelang yang tulisannya best friends nggak bu?” Tanya ku pada penjual keempat yang berada di depan monumen 11 Maret Yogyakarta. Harap-harap cemas aku menunggu si ibu yang mencarikan gelang, karena gelang itu selalu habis terjual.
“Yang ini kah? Kalau yang ini, hanya ada satu”
“Iya yang ini, bu. Saya butuh 10, bu..”
“10? Mbak mau tunggu dulu? Ibu carikan di suami ibu yang jual disana, tidak lama kok”
“Iya, bu” kataku perlahan.
Sambil menunggu aku mengamati beberapa gelang lain yang dijual dan sesekali melihat orang-orang yang berlalu lalang di bawah air hujan. Aku melihat beberapa orang yang menjajakan jas hujan yang terbuat dari plastik dan beberapa ojek payung yang mencoba mengais nafkah di kala hujan berjalan-jalan dan menawarkan jasanya dengan cepat.
“Excuse, me. How much it is bracelets?”
            Aku mengalihkan pandangannya ke arah obyek yang menarik perhatiannya yang kini berada di sampingnya. Dua orang asing.
            “Haduh, Kawulo m'boten mangertos punika, mbak. Panjengan mangertos Bhoso Inggris? Kangmas menika matur punapa njih mbak?(Haduh, saya tidak mengerti. Mbak? Anda mengerti bahasa Inggris?Masnya ini menanyakan apa ya mbak?)
            “Permisi, untuk harga 3 buah gelang itu 10 ribu rupiah” kataku perlahan. Keringat dingin mendadak berdatangan saat kedua orang asing itu menatapku dengan pandangan yang sangat sulit untuk diartikan.
            “Apakah semua ini harganya sama?”
            “Iya”
            “Kamu tahu, yang ini terbuat dari apa?” sahut seseorang yang berada di sebelahku.
            “Ini dari batu dan yang ini dari kayu yang diukir”
            “Oh begitukah? Apakah menurutmu ini bagus?”
            “Ya, tentu saja ini bagus”
            Aku menyibukkan diri melihat-lihat gelang yang kini berada di depanku dengan perasaan yang tak menentu, Aku melihat seseorang kini mulai melangkah ke sampingku. Dia tidak seperti temannya yang memiliki kulit bewarna coklat cerah, tapi pria memiliki kulit yang putih bersih dengan rambut yang sehitam malam. Aku melihat dengan ekor mata saat melihat mereka berdua berbicara, aku hanya berdoa agar mereka tidak membicarakannya atau membicarakan kebodohannya. Aku mengambil asal sebuah gelang yang memiliki warna paling cerah untuk diamati dengan dalih mengalihkan perhatian dari kedua orang asing yang kini semakin merapat kepadanya karena hujan.
            “Boleh ku lihat gelang yang kamu pegang?”
            “Oh, silahkan”
            Aku melihat kedua orang itu menyibukkan diri dan bercakap-cakap tanpa memperdulikan kehadirannya.
Ok, ini tak bagus. Mereka berbicara berdua dengan bahasa yang tidak kumengerti sama sekali. Kenapa tidak pakai Bahasa Inggris saja sih?
            “Ini untuk cewek apa cowok”
            “Ini untuk cowok sepertinya, dengan simbol marijuana dan warna merah, kuning, dan hijau merupakan lambang dari urban rasta”
            Aku melihat pria itu mencoba untuk memasangkan gelang yang ternyata ukurannya tertalu kecil.
            “Tangan mu terlalu besar untuk gelang itu” Wajahku seketika memerah karena anggota tubuhnya telah mengungkapkan apa yang ada di dalam pikirannya tanpa perlu meminta persetujuan dari si empunya tubuh.
            “Boleh aku lihat tangan mu?” Tanya pria kedua
            “Tangan?”
Aku mengulurkan tangannya sebagai bentuk jawaban dalam sebuah kebingungan, dan suprise ternyata dia memasangkan gelang itu di tangannya dan dia tersenyum puas. Sebuah senyuman manis yang belum pernah aku lihat sebelumnya yang sontak membuat pipiku bersemu merah.
            “Apakah kamu menyukainya?”
            Aku hanya dapat mengangguk sebagai jawaban. Aku masih terpaku dan kebingungan, entah harus berkata atau menjawab seperti apa. Dan kini  jantung ini berdegup dua kali lebih keras daripada yang seharusnya saat kulit halus tangan pria itu  menyentuh kulitnya. Aku melihat dia mengeluarkan uang 10 ribu dan mengambil 2 gelang lain.
            “Itu untuk kamu”
            “Serius?” Ara reflex bertanya dalam Bahasa Indonesia.
“Maaf apa yang kamu katakan?”
“Maaf, apa kamu benar-benar serius?” ulang Ara dalam Bahasa Inggris.
            “Tentu saja, dan ngomong-ngomong aku berasal dari Afghanistan, apakah kamu-”
            “Mbak? Ini gelang yang mbak cari tadi, jadi dibeli kan, mbak?”
kenapa ibu ini datang di saat seperti ini? Aku tak masalah jika harus menunggu sedikit lebih lama lagi.
            “Tentu saja, tolong dibungkus ya bu?” sahut Ara enggan sambil menyerahkan uang.
             Oh iya, sekarang hujan kan? Apa bahasa Indonesia untuk hujan?” tanya pria pertama.
            “Hujan”
            “Huuu? ” sahut mereka bersamaan
            “Hu-jan” ulangku sambil tertawa melihat raut wajah mereka berdua.
            “Hujan..” dan kali ini mereka melafalkannya dengan sangat baik.
“Mbak ini gelangnya”
“Makasih ya, Bu..” kataku sambil memasukkan gelang tersebut ke dalam tas mininya.
“Kak, Ayo cepat.. 15 menit lagi, kita pulang” teriak salah satu juniorku mengingatkan
“Iya, sebentar. Kamu duluan aja-”
 “Itu teman mu?” potong pria Afghanistan itu.
“Dia junior ku, sepertinya ku harus pergi sekarang. terimakasih”
“Tunggu, maukah kamu memberiku pin bbm kamu? Atau nomer yang bisa aku hubungin? Untuk berteman?” tambahnya.
Aku segera mengeluarkan hpnya dan menyerahkannya pada dia dan begitu juga dengan pria itu segera mengeluarkan hp nya dan menyerahkan padaku. Aku tahu maksudya segera aku memasukkan beberapa kontak pribadiku. .
“Terimakasih, selamat tinggal” Kataku sambil berlari menembus hujan
“نگو خدا حافظ لطفا  (Jangan ucapkan selamat tinggal),karena kamu tidak akan tahu apakah kita akan bertemu lagi atau tidak” teriaknya mencoba bersaing dengan suara hujan.
            ----------------------

Hari ini, aku menerima paket dari dia, dari pria Afghanistan yang kini berada di Australia. Menerima sebuah gelang perak dengan beberapa charm yang berbeda dan selembar surat di dalamnya.
Hai, gimana punya kabar? Semoga kamu selalu sehat. Aku disini pun juga sehat, seperti biasa. Dan bagaimana dengan kuliah dan pekerjaanmu? Aku harap semua baik-baik saja tanpa ada halangan apapun. Sudah 4 tahun berlalu sejak kita bertemu di malam itu. Sejak aku berjanji akan menemui mu lagi. Maaf, mungkin tidak sekarang. Pekerjaanku disini tidak memungkinkan untukku tinggalkan. Aku harap kamu mengerti. Dan sebagai gantinya aku mengirimkan gelang ini. mungkin tidak sebanding dan kamu tidak akan memaafkanku kali ini, tapi selamat ulang tahun. Maaf jika aku mengucapkannya terlalu cepat. Tapi selamat ulang tahun, semoga Tuhan selalu melindungi kamu, dan membuat kamu selalu bahagia.
           
            Ps : Ejaan Bahasa Indonesiaku sudah benar kan? :p

-        Dari pria yang menyayangi kamu –

-tulisan ini diikutsertakan dalam KampusFiksi 10 Days Writing Challenge-





Komentar

  1. Uuh so sweet bangeet, kebayang banget suasananya, awal pertemuan dari pas beli gelang sampe bisa surat2an gitu 😆
    Visit blog saya ya https://kairistory96.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sudah mampir dan membaca ><
      aq juga akn berkunjung :3

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

2017's Resolution

Ikan dan Manusia

Cinta adalah Kamu